Tuesday, May 7, 2019

KELAHIRAN ILMU DARI RAHIM FILSAFAT

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Filsafat Sebagai Induk Pengetahuan: Berawal dari Rasa Ingin Tahu Manusia
Filsafat muncul ketika manusia dengan akal yang dimilikinya mulai merasa ingin tahu terhadap apa yang sebenarnya terjadi dari apa yang ia lihat dan rasakan. Dari sanalah maka manusia mulai menggunakan potensi akalnya untuk berfikir. Pada mulanya, ia menganggap apa yang terjadi pada diri dan lingkungannya sebagai misteri alam yang menakutkan dan tak bisa terpecahkan. Ketika melihat fenomena bencana seperti gempa bumi, gunung meletus dan gerhana bulan atau matahari mereka menganggap sebagai kemarahan alam.

Dari Filsafat Menuju Ilmu

berikut ini skema perjalanan filsafat menuju ilmu. Berikut juga karakteristik filsafat dan ilmu. Serta tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.

ANTARA NORMA DAN KEBEBASAN

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Kebanyakan orang awam menyangka bahwa hewan itu bebas sebebasnya dalam menjalani hidupnya dan hanya menuruti beberapa insting mereka saja seperti melindungi diri dan makanan. Hewan, dalam anggapan umumnya dlihat sebagai makhluq yang hidupnya tenang seiring dengan alam yang ada di sekitarnya. Sesusah-susahnya hewan tidak se susah manusia ketika diterpa berbagai masalah dalam hidupnya. Anggapan ini lalu ditambah dengan asumsi terkekangnya manusia dengan berbagai aturan di dunia. Meskipun anggapan ini ada benarnya namun tidak semua dapat dibenarkan.

ILMU SEBAGAI KEBENARAN UMUM

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Dalam berbagai tahapan pencarian kebenaran dalam sejarah manusia, meskipun bukan satu-satunya cara, sampai saat ini kebenaran Ilmu (Kebenaran Ilmiah) merupakan satu-satunya metode yang paling bisa diandalkan sebagai kebenaran umum. Kebenaran ilmiah menjadi dapat diandalkan karena ia merupakan kebenaran yang dicapai dengan seperangkat metodologi tertentu yang bisa saja digunakan setiap orang yang ingin mencobanya. Lintas personal, kelompok, bahkan agama sekalipun. Artinya kebenaran ilmu itu terbuka untuk diuji siapapun. Sifat keterbukaan ilmu ini adalah sesuatu yang bersifat niscaya dan harus dilakukan. Jika tidak maka ia akan mengebiri ilmu itu sendiri.
Dengan demikian maka pengujian ilmu adalah suatu kewajiban. Karena dengan demikian maka ilmu itu akan terbukti benar salahnya. Jika salah ia akan sirna dengan sendirinya. Jika benar maka ia akan terus berlaku bahkan beranjak dari yang semula adalah teori menjadi hukum. 
Jika Teori adalah hipotesa yang dibuktikan secara empiris, maka mukum merupakan kebenaran yang dibuktikan dan dirasakan masyarakat secara luas dan bersifat tetap. Seperti Hukum Grafitasi, Hukum Relativitas, Hukum Kirchoff, dan Hukum Ohm.

MANUSIA & ILMU PENGETAHUAN

Abstract
This article aims at discussing the correlation between human being and science. Science itself is also defined as the process of thinking to acquire knowledge. As time pasts, the human being has gone through many ways to reveal the truth. Those ways are (1) experience, (2) authority, (3) deductive reasoning, (4) inductive reasoning and (5) scientific approach. A scientific approach is the most appropriate way to seek the universal truth. There are two major ideas regarding the source of the truth. The rationalists say that the truth comes from reasoning (human ratio). Meanwhile, the empirics say that the truth comes from empirical experiences of the human senses. Some other ideas such as the idea of insight vision and intuition are not yet sufficient regarded as the source of the general truth. According to Sidi Gazalba, Science is divided into six (6) categories, namely (1) practical, (2) normative practical, (3) normative positive, (4) ideographic speculative, (5) nomothetic speculative and (6) theoretic speculative. In addition, three are three criteria of the universal truth, namely (1) the theory of coherent, (2) the theory of correspondence and (3) the theory of pragmatism. The scientific methodology is principally a way to arrive at the universal truth which elaborates the deductive and inductive reasoning.

Keywords: Human Being, Science, Knowledge, Scientific Method

HAKIKAT PENGETAHUAN SAINS

Ilmu pengetahuan dibangun atas dasar asumsi adanya sebab akibat yang niscaya dalam kaitannya dengan alam dan manusia. Keniscayaan kausalitas itu meniscayakan adanya semacam hukum alam dalam relitas dunia dengan keteraturannya. Di mana, keniscayaan hukum alam itu diberikan oleh Tuhan dalam rangka mengatur alam ini (Badii us samawati wal ardh). 
Secara teologis, adanya hukum alam ini adalah suatu keniscayaan akan adanya Tuhan. Bahwa Tuhan itu adalah pencipta, dan sekaligus Dia-lah yang menopang ciptaannya. Pada saat yang sama Dia pula yang mengatur ciptaan tersebut. Ketiga peran tersebut yakni mencipta-menopang-mengatur adalah Allah sebagai kausa prima.

Saturday, March 30, 2019

RAMALAN CUACA, PERANG, NABI IBRAHIM DAN REGRESI LINIER

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Secara tidak sengaja tadi malam, (30/03/2019) sehabis maghrib saya melihat debat calon presiden putaran keempat. Saya nonton televisi ini sungguh di luar rencana saya, karena saya awalnya akan mengikuti pengajian rutin di masjid Jami’ Baiturrahman Kepanjen. Karena kiai yang mengisi pengajian tidak hadir, maka pengajian menjadi kosong. Dan pulanglah saya kembali ke rumah.
Melihat debat calon presiden tadi malam, ada yang menarik hati saya dari ungkapan kandidat nomor 1, yakni pak Joko Widodo yang mengatakan pada intinya bahwa: “menurut laporan intelejen, diprediksi bahwa sampai dengan 20 tahun lagi tidak akan terjadi perang.” Pernyataan ini lalu menjadi bahan bagi kandidat nomor 2 yakni pak Prabowo untuk ‘menyerang’. Pak Prabowo lalu mengungkapkan pengalamannya ketika memulai karir sebagai tentara pada tahun 1974. Ia mengatakan bahwa menurut para jenderalnya, diramalkan bahwa sampai 20 tahun lagi tidak terjadi perang. Dan kenyataannya setahun kemudian yakni pada 1975, Indonesia perang di Timor Timur. Saya ingat peristiwa ‘timor timur’ itu pernah saya dari buku sejarah. Yakni antara pro integrasi dan fretelin yang pro kemerdekaan.

APAKAH FILSAFAT ITU SESAT?